
Bencana adalah peristiwa/rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan baik oleh faktor alam dan/atau faktor non alam maupun faktor manusia, sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak psikologis dan di luar kemampuan masyarakat dengan segala sumber dayanya. Baru-baru ini Indonesia kembali diguncang bencana Gempa Bumi di Tasikmalaya dan sekitaran Jawa Barat setelah gempa dan tsunami di NAD dan gempa di Yogyakarta. Banyak korban meninggal dunia, luka-luka dan kehilangan sanak saudara serta tempat tinggal akibat gempa tersebut. Gempa berkekuatan 7,3 Skala Richter (SR) yang berpusat di 142 km barat daya Kota Tasikmalaya, Rabu (2/9) pukul 14.55 itu sungguh di luar dugaan kita semua setelah sekian tahun Indonesia dilanda bencana dan pemerintah kita telah melakukan langkah-langkah penanggulangan bencana nasional agar sejak dini bisa diketahui dan mengurangi korban jiwa. Namun Tuhan berkehendak lain….. Atau ini merupakan teguran bagi kita semua??
Sehari setelah bencana gempa itu mulai bermunculan relawan-relawan kemanusiaan yang terjun langsung membantu mengurangi beban penderitaan saudara-saudara kita yang tengah ditimpa musibah. Siapa yang disebut Relawan itu? Apakah mereka selalu muncul pada saat terjadi bencana saja? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggelitik saya untuk menulis dan membahasnya…
Menurut buku yang pernah saya baca “pekerjaan kerelawanan” (volunteer work) adalah segala bentuk bantuan yang diberikan secara sukarela untuk menolong orang lain. Sedangkan Relawan adalah seseorang yang secara sukarela (uncoerced) menyumbangkan waktu, tenaga, pikiran dan keahliannya untuk menolong orang lain (help others) dan sadar bahwa tidak akan mendapatkan upah atau gaji atas apa yang telah disumbangkan (unremunerated). Menjadi relawan adalah salah satu aktivitas yang dapat dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat sebagai wujud kepedulian dan komitmennya terhadap sebuah visi tertentu. Hampir semua relawan yang terlibat dalam pekerjaan kerelawanan termotivasi oleh semangat untuk menolong orang lain sebagai bentuk rasa kepedulian dan tanggung jawab untuk membantu meningkatkan kesejahteraan orang lain.
Beberapa alasan yang mendorong orang untuk menjadi relawan ;
- Senang mendapatkan pengakuan, minimal berupa ungkapan terima kasih, atas kerjanya untuk masyarakat.
- Senang melakukan sesuatu yang ’tampak’ di masyarakat.
- Ingin menjadi bagian dari organisasi, program atau gerakan (yang terkenal).
- Senang bekerja dengan orang-orang yang memiliki latar belakang, nilai atau tujuan yang sama.
- Menghabiskan waktu.
- Senang memiliki pengaruh di masyarakat (perkataan dan perbuatannya diikuti oleh masyarakat).
- Memiliki kegiatan positif.
- Kalangan tua sebagai pihak yang memiliki pengalaman dapat menyumbangkan ilmu untuk kepentingan masyarakatnya dan tetap aktif berkegiatan.
- Kalangan muda memiliki sarana untuk mengembangkan diri.
- Sebagai sarana belajar tentang diri dan lingkungan.
- Peluang untuk ”berbuat” menolong pihak lain dan berkontribusi bagi penanggulangan kemiskinan.
- Menjadi bagian dari riwayat diri (curriculum vitae) yang dapat digunakan untuk mencari pekerjaan maupun pengakuan masyarakat
Dalam budaya Indonesia kerelawanan sebenarnya bukan hal baru. Sejak jaman dahulu, kerelawanan sudah mengakar dalam tradisi dan dipraktekan dalam kehidupan bermasyarakat. Bentuk kerelawanan yang paling umum dipraktekkan oleh masyarakat Indonesia terutama di pedesaan adalah gotong royong dalam kegiatan pembangunan rumah, pembangunan sarana sosial, perkawinan, maupun kematian. Para pemuda, orang tua, dan wanita secara sukarela memberikan kontribusi baik berupa tenaga, uang dan sarana sesuai dengan kemampuan mereka. Sedangkan perkotaan, nilai-nilai kerelawanan sudah mulai luntur. Di kota, setiap tenaga atau bantuan yang dikeluarkan selalu diukur dengan uang atau materi. Dalam kegiatan semacam kerja bakti atau ronda, warga lebih memilih membayar orang atau mewakilkan ke pembantu daripada harus terkena giliran. Rasa-rasanya koq iya yaaa???

Relawan dapat dikategorikan menjadi dua kelompok, yaitu : Relawan jangka panjang, adalah relawan yang memiliki kepedulian dan komitmen tinggi terhadap suatu isu, visi atau kelompok tertentu dan bersedia mendedikasikan diri untuk memperjuangkan isu/visi yang di yakininya dalam jangka waktu tak tertentu. Relawan jangka panjang memiliki ikatan yang kuat baik dengan lembaga maupun isu atau program yang sedang dilakukan oleh relawan lembaga. Biasanya relawan tipe ini memiliki ikatan emosi yang kuat terhadap isu atau tugas yang sedang dikerjakan dan sejalan dengan lamanya partisipasinya dalam suatu lembaga, maka nilai, identitas diri dan rasa kepemilikan terhadap isu/tugas/lembaga juga akan meningkat. Contohnya adalah lembaga-lembaga LSM (Mer-C), PMI dan partai-partai politik yang memiliki relawan jenis ini.. Relawan Jangka Pendek, adalah relawan yang bergabung dengan suatu lembaga hanya dalam jangka waktu tertentu. Biasanya relawan tipe ini memiliki kepedulian terhadap suatu isu tetapi tidak menganggap isu atau keterlibatannya dalam lembaga tersebut sebagai suatu prioritas dalam hidupnya. Relawan-relawan jenis ini yang bekerja dalam jangka waktu tertentu saja bahkan secara spontan demi kemanusiaan maupun tujuan lainnya contoh relawan tim sukses pemilu, fasilitator proyek pemberdayaan dll.. Jadi para relawan sebenarnya tidak identik bekerja atau muncul pada saat terjadi bencana saja karena jiwa kerelawanan ini telah ada dan harus ditumbuhkan setiap waktu dan sepanjang jaman. yang terpenting adalah bagaimana memelihara para relawan yang sudah ada agar bisa berguna baik dalam penanggulangan bencana maupun penanggulangan kemiskinanan. Manusia berdaya sangat potensial untuk menjadi relawan yang tidak dibatasi oleh rasa pamrih, SARA, terikat waktu, tempat selain motivasi “hidup adalah perbuatan” jadi mari berperan dimana saja dan kapan saja…. (baca tulisan saya dalam blog lain ttg “Manusia Berdaya”)
Anda termasuk relawan yang mana? …. @
Mulai menarik nih Ri. Coba lihat blog zenhabits.net deh. Kayaknya semangatnya agak mirip sedikit.
ya Dan cm temanya sesuai kemampuan kita n bukan ngebahas isi buku tp terkait dengan isu-isu yg lg hangat…