
Pemberdayaan sejati berhubungan dengan kemerdekaan , manusia yang merdeka adalah manusia yang dapat dalam berperilaku tidak dikontrol oleh lingkungan akan tetapi sikap dan perilakunya adalah merupakan pillihan bebas yang hanya dikontrol oleh akal sehat dan hati nurani. Oleh karena itu manusia yang berdaya hanya akan menggunakan semua waktu, tenaga, kecerdasan dan apa yang dia miliki sebagai wujud cinta kasih kepada Sang Pencipta sebagai pengejawantahan dari hati nuraninya. Manusia yang berdaya adalah manusia pemberi , yaitu manusia yang mampu dengan ikhlas memberikan apa yang dipunyai oleh dia untuk orang lain. Apa yang diberikan bukan hanya harta benda tetapi bisa dalam bentuk perhatian (kepedulian), waktu, pemikiran dan sebagainya. Jiwa dan semangat ini sebenarnya dipunyai oleh setiap manusia, karena manusia dianugrahi hati nurani yang di dalamnya ada cinta, sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai manusia. Bukankah setiap manusia mempunyai kemampuan untuk mencintai? Mencintai artinya ikhlas untuk memberikan apa yang kita miliki tanpa pamrih apapun.
Manusia yang paling berdaya adalah manusia yang mempunyai kapasitas yang tinggi dan menggunakan kapasitasnya untuk kepentingan umat manusia. (perilaku baik, kapasitas tinggi). Manusia seperti inilah yang disebut dengan manusia berkualitas (mempunyai kualitas manusia sejati). Pembedaan – pembedaan yang selama ini terjadi antara perempuan dan laki – laki disebabkan oleh adanya konstruksi secara sosial dan kultural. Sehingga timbul paradigma – paradigma bahwa perempuan itu lemah lembut, emosional, keibuan. Sedangkan laki – laki kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Laki – laki lebih cerdas dibandingkan dengan perempuan, dan lain – lain. Konsep mengenai sifat yang melekat pada laki – laki dan perempuan sebagai hasil dari konstruksi sosial maupun kultural inilah yang merupakan konsep gender. Konsep mengenai sifat – sifat perempuan dan laki – laki di atas menyebabkan bias gender dan menyebabkan ketidakadilan baik bagi kaum perempuan maupun kaum laki – laki. Anggapan bahwa kelembutan hanya melekat pada kaum perempuan menyebbakan pekerjaan – pekerjaan yang berhubungan dengan kelembutan seperti membersihkan rumah, menari dan sebagainya dianggap sebagai “pekerjaan perampuan”. Di lain pihak anggapan bahwa kekuatan secara fisik, keperkasaan melakat pada kaum laki – laki, menyebabkan laki – laki dididik untuk agresif, menyelesaikan masalah dengan kekuatan fisik, bersaing dan sebagainya yang malah menjauhkan dari sifat manusia sejati. Padahal berbicara mengenai sifat laki – laki dan perempuan , seharusnya kita mengacu kepada sifat – sifat yang dipunyai oleh manusia sejati, karena sebagai manusia perempuan dan laki – laki mempunyai derajat dan martabat yang sama. Oleh karena itu dalam kaitan dengan pemberdayaan, baik perempuan dan laki – laki mestinya diberdayakan untuk menuju kualitas manusia yang sejati, karena secara hakiki perempuan dan laki – laki mempunyai martabat yang sama sebagai manusia…. setuju guys? @